|
 | ketika semua indera mengirim sinyal nikmat | Oct 25, 2005 |
"jalan-jalan dan makan-makan" buat saya tak sekedar menyenangkan dan mengenyangkan. Ada rasa syukur di setiap jalan dan makan saya. Syukur bahwa saya masih bisa jalan-jalan. Syukur bahwa saya masih bisa makan-makan. Syukur bahwa semua indera mengirim sinyal nikmat, karena dalam proses jalan dan makan itu sebenarnya semua indera kita akan mengirim feedback rasa nyaman, senang, dan kenyang. Maka saya share setiap dolan-dolan saya, jalan-jalan saya, makan-makan saya. Yang semoga bisa menjadi pelengkap info Anda. Nikmati lalu tinggalkan jejak di guest book. Dan tentu saja silakan kembali untuk membaca cerita-cerita selanjutnya salam, Niniek Link: http://www.gramediamajalah.comMau tahu soal Majalah Sedap Pemula, yang menjadi referensi saya belajar memasak seperti yang saya ceritakan di "(Sesuatu)...Saos Telur Asin"? Silakan cek ke link ini. Dan tak hanya Majalah Sedap Pemula yang akan Anda jumpai, karena ternyata banyak sodara-sodaranya, seabreg gambreng geneeeh!! Seperti biasa, kebanyakan malam minggu saya, diisi dengan mengaduk-aduk tempat makan dan jalan-jalan. Dan tiap kali bertemu dengan menu “(sesuatu)...saos telur asin”, pasti saya akan memesannya. “Sesuatu”nya bisa diisi macam-macam. Udang, jamur, atau buncis. Sudah pasti menu “(sesuatu) ...saos telur asin”, enak, karena unsur kuning telur asin itu sendiri rasanya sudah luar biasa. Menu ini selalu mengingatkan saya pada eksperimen memasak yang pernah saya lakukan kira-kira tahun 2010. Saya tidak bisa memasak. Tetapi karena tugas (saat itu saya menjadi etnographer untuk riset Majalah Sedap Pemula), maka saya mencoba mendalami sebagian dari kehidupan informan saya, yaitu mempraktekkan resep yang dimuat di Majalah Sedap Pemula. Selesai tugas, iseng timbul pikiran, masa iya saya ga bisa nyoba. Lalu iseng-iseng saya pun mencobanya. Menu yang saya pilih untuk dipraktekkan adalah Udang Saos Telur Asin. Minimal, jika saya gagal praktek, udang dan telur asinnya masihlah bisa dimakan  Karena majalah ini memang pas untuk orang-orang seperti saya, saya pun bisa menghasilkan masakan yang dimaksud setelah percobaan kedua. Mengapa harus yang kedua baru berhasil? Bukan salah majalahnya. Tetapi salah saya sendiri. Waktu belanja bahan-bahan saya hanya mengandalkan ingatan. Tidak terlebih dahulu mempelajari bahan dan step by stepnya. Akibatnya saya salah membeli telur asin yang dimaksud. Saya membeli telur asin mentah. Akibatnya bukan Udang Salos Telur Asin yang saya buat, melainkan Udang Telur Asin Orak-Arik  Lalu saya perbaiki kesalahan pertama. Mempelajari bahan dan step by stepnya, baru belanja bahan. Saat memasak, saya coba detil ikuti step by stepnya. Dan hasilnya...bolehlah dibanggakan, waktu itu. Tetapi jika diminta memilih antara menyajikan dan menikmati, saya lebih memilih menikmati sajalah. Ribetnya ga seberapa, tetapi cela terus mendera  PS: foto tersebut adalah buncis goreng saos telur asin, bukan bikinan saya. Itu salah satu menu di Rice Bowl. Oke juga ya, buat yg bermasalah dg anak ga doyan sayur, bolehlah dicoba cara ini. Melaburi sayuran dg telur asin |  | Ke Surabaya di akhir pekan, jangan coba-coba berani makan di Lontong Kikil Bu Sugeng, Ngagel :)) Ruameeeee pol.
Ga kebagian meja, harus rela nglesot di lantai pinggiran ruko.
Plus siap-siap pasang pendengaran. Sebab begitu bakulnya teriak "Telas!" ya artinya mesti udah ngantri ya harus rela bubar karena kikilnya habis. Jadi, berdoalah banyak-banyak agar Anda masih kebagian lontong kikilnya.
Dengan Rp 16.000 Anda akan mendapatkan seporsi lontong/nasi, sepiring kikil (lebih beruntung bila mendapatkan tulangnya, karena Anda bisa menyedot sumsum di dalamnya), dan segelas minuman (teh atau es jeruk).
Rasanya? Ditanggung, malam itu juga Anda akan bermimpi kelezatan kuah dan keempukan kikilnya.
|
|  | Dalam perjalanan ke Malang, 2 April 2011, saya diajak singgah ke sebuah WTS (Warung Tengah Sawah) Jemirahan. Lumayan jauh jaraknya dari jalan raya. Tetapi letaknya ternyata memang benar-benar konsisten dengan namanya, di tengah-tengah sawah :)
Secara penampakan depan memang ini selayaknya warung ndeso. Demikian pula saat masuk ke dalamnya. Disambut dengan tungku panas membara menggunakan kayu bakar. Jelaga dimana-mana.
Dari depan sampai meja makannya berlantai tanah. Tempat duduknya juga dari amben yang cenderung reyot.
Tetapi jangan underestimated dengan penampakan luar. Karena begitu melihat sajiannya, menyentuhnya, merasakan sajian di dalam mulut, yang terasa adalah kenikmatan luar biasa. Menunya lele, belut, bothok, udang, cumi, kepiting.
Lebih nikmat lagi saat membayarnya. Makanan enak pol harganya juga murah pol.
Misalnya, bothok ikan (kalau saya cenderung melihatnya sebagai pepes) dalam satu bungkus ada 2 iris ikan (beragam jenis ikan), harga hanya Rp 5000. Wis pokoke murah pol, enak pol.
Letaknya? Desa Jemirahan, perbatasan Sidoarjo-Pasuruan. |
Saya ingin berbagi cerita bagaimana naik teksi (taksi) di luar Kuala Lumpur. Di Kuala Lumpur, naik teksi adalah pengalaman sehari-hari seperti halnya naik taksi di Jakarta. Anda perlu memastikan untuk menggunakan argo (di Malaysia disebut meter) agar Anda tidak diajak putar-putar. Kalau tidak hendak menggunakan meter, beranilah untuk menawar. Menjadi lain ceritanya saat Anda sudah berada di luar Kuala Lumpur. Saya kebetulan menuju ke distrik Selangor. Sangat mudah dan murah menuju Selangor dengan menggunakan LRTTujuan saya adalah Petaling Jaya (saya hendak menuju ke Menara Star, lokasinya sangat dekat dengan Eastin Hotel). Dari KL Sentral saya mengambil LRT (Kelana Jaya – Gombak) dengan tujuan Stesen Asia Jaya. Dari Stesen Asia Jaya, saya harus menggunakan teksi karena tidak ada bas (bus/bis) menuju daerah yang saya tuju. Seperti biasa saya minta menggunakan meter. Sampai di lokasi, meter menunjukkan 6.3 RM. Setelah urusan selesai, saya harus mencari teksi lagi untuk menuju stesen. Waktu menunjukkan pukul 5 sore, lebih-lebih sedikit. Beruntung karena ada teksi yang stand by di depan. Teman saya menyebutkan tujuan yang kami minta. Tetapi sang sopir keturunan India (banyak sekali sopir teksi yang keturunan India di Malaysia) menjawab dengan kalimat yang terucap dengan cepat-cepat. Tidak kami pahami secara jelas. Tetapi sepertinya ada kata-kata “masuk”, “macet”, “geser”, “tunggu”, “1 penumpang lagi”. Saat kami masuk dan duduk di belakang, si sopir meminta salah satu dari kami duduk di depan. Mulai merasa aneh. Tetapi saya akhirnya duduk di samping pak sopir. Tak berapa lama masuklah penumpang lain di belakang. What?! Ooooo, baru saya paham. Teksi ini sesungguhnya tengah menunggu penumpang langganannya. Saya hendak turun, tetapi dicegah. Pak sopir memberi penjelasan berkali-kali. Berkali-kali. Tetap dengan kecepatan tinggi ucapannya, tetapi di ulang-ulang. Maka pahamlah saya apa maksudnya. Ternyata di Petaling Jaya, naik teksi pada jam sibuk, harus rela berbagi (sharing) dengan penumpang lain yang setujuan. Well, okelah. Ternyata belum selesai kejutan yang disiapkan oleh pak sopir. Dia akan mengantarkan saya ke stesen Paramount. Bukan Asia Jaya. Lebih jauh sedikit, tetapi tidak macet. Dan tidak padat penumpangnya. Sehingga kami bisa mendapatkan tempat duduk di LRT. Begitu katanya. Saya menyetujui. Tetapi lagi-lagi dia memberikan kejutan. Pak sopir bilang, harusnya saya membayar 9 RM. Tetapi dia memberi saya diskon 1 RM. Jadi saya hanya perlu membayar 8 RM (Padahal dari Asia Jaya, saya hanya membayar 6.3 RM) Sampai di sini saya ngakak. Tapi...oke, oke, go a headlah.... Tetapi pak sopir itu tidak bohong. Di sisi jalan menuju stesen Asia Jaya memang macet. Tetapi kemacetan ini buat kami adalah bukan macet seperti hanya Jakarta. Di stesen Paramount memang sepi. Dan kami memang bisa mendapatkan tempat duduk. Sampai di atas LRT kami tertawa dengan pengalaman sharing teksi ini. Lalu kami menghitung, lumayan juga pendapatan pak sopir ya, dari kami dapat 8 RM, dari penumpang lainnya dapat 4 RM. Sudah 12 RM sekali angkut (Bung, kalau di Jakarta, ini namanya angkot) Berbagi teksi, tidak hanya saya alami di Petaling Jaya. Tetapi juga saat di Shah Alam (juga di distrik Selangor). Dari KL Sentral saya naik KTM Sentul – Port Klang dengan tujuan Stesen Shah Alam. Lumayan jauh tujuannya, karena membutuhkan 40 – 50 menit untuk sampai tujuan, dengan harga tiket yang cukup murah (tidak sampai 3 RM). Sampai di stesen Shah Alam, tampaknya kami harus naik teksi. Sejenak memperhatikan kondisi lalu kami paham, harus sharing teksi lagi. Maka saya harus berteriak, meneriakkan daerah tujuan saya. Gagal mendapatkan teksi, karena teksi sedikit sementara calon penumpang mengantri. Tak berapa lama, masuk teksi lagi. Saya berteriak lagi. Si sopir membalas teriakan saya,”Masuk!”. Asik, masuklah saya. Tiba-tiba ia menunjuk penumpang lain,”You, masuk!”. Oh, oke, bertiga. Sharing lagi. Eh, dia masih teriak lagi,”You, masuk!”. Wah, mulai deh, gaya angkot Jakarta ada fotocopy-annya di sini. Berdesakan di teksi. Well, oke deh, saya paham sekarang. Jadi kalau Anda bertujuan di distrik Selangor dan hendak naik teksi, jangan berharap privat ya, karena memang Anda harus berbagi. Saya belum ada pengalaman bagaimana dengan distrik lainnya. Kalau ada info, sharing ya.  Beberapa hal yang sepertinya remeh, tapi ternyata vital, yang harus Anda siapkan sebelum ke negeri orang. Steker Kaki Tiga Satu hal yang tidak boleh Anda lupakan saat packing adalah colokan listrik (steker) kaki tiga. Inilah pengalaman saya dengan steker tiga kaki. Berbekal ingatan pengalaman tahun 2008, rasanya di hotel di Kuala Lumpur maupun Singapore masih menyediakan colokan listrik (steker) dua kaki. Setidaknya di bathroom. Tetapi ternyata ingatan saya salah. Saat sampai di Capitol Hotel (Jl. Bulan – Bukit Bintang – Kuala Lumpur), saya tidak mendapati steker dua kaki. Padahal saya harus men-charge handphone maupun kamera. Sebenarnya tidak semua peralatan elektronik yang dimiliki Capitol Hotel siap untuk steker tiga kaki. Nyatanya saya menemukan ketel pemanas air dan lampu di kamar saya memiliki dua kaki. Dan ternyata Capitol Hotel menyiasati dengan membenggangkan (apa ya bahasa yang paling tepat?...membengkokkan keluar) colokan dua kakinya agar bisa digunakan di steker tiga kaki. Tetapi saya dan Anda tentu tidak mau mengorbankan charger handphone untuk dibengkokkan. Maka, mau tidak mau, saat keluar dari kamar hotel, tujuan utama saya adalah mencari toko peralatan listrik yang menjual steker tiga kaki. Dan saya mendapatkan stekker tiga kaki ini dengan harga 5.90 RM (harga termurah). Cukup murah sebenarnya, tetapi bikin panik kalau Anda tak segera menemukan toko yang menjualnya. Hal remeh, tapi nyatanya vital saat saya, dan Anda menjadi orang yang punya ketergantungan tinggi dengan perlengkapan elektronik. Kalau Anda beruntung, bisa jadi hotel Anda menyediakan steker multi. Seperti yang saya alami di York Hotel Singapore. Dengan steker multi ini Anda tinggal colok peralatan listrik Anda. Jika beruntung tentu saja. Tetapi lebih baik memang bersiap-siap sajalah. Tissue Basah Tissue basah/wet napkin/wet wipes jadi sangat vital untuk Anda siapkan, jika Anda tidak biasa menggunakan closet kering. Di Singapore saya sangat kesulitan menemukan closet dengan washer. Tissue basah yang saya siapkan dalam tas saya rasanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 4 hari. Saya beruntung, ketika jalan di Orchard, saya menemukan wet napkin yang sedang diskon di Watson. Rasanya senang sekali. Hanya dengan 2 SGD, saya mendapatkan 4 pak tissue, masing-masing isi 10. Cukup untuk persediaan. Obat Diare Obat-obatan pertolongan pertama memang tidak boleh lepas dari daftar bawaan Anda. Obat-obatan yang saya masukkan dalam daftar bawaan saya adalah anti masuk angin, obat sakit kepala, salep lecet, obat maag, dan obat pegal-pegal. Tetapi saya lupa memasukkan obat diare dalam daftar saya. Sebenarnya saya termasuk pemakanan segala. Apapun. Dengan bumbu apapun. Dengan rasa apapun. Tetapi yang sulit diajak berkompromi adalah pencernaan saya. Di Singapore, saya harus membeli Norit harga 8.9 SGD untuk mengatasi masalah diare saya J Sebagai tambahan, Anda boleh menambahkan obat oles untuk pegal dan dekker. Ini penting, karena biasanya Anda akan banyak melakukan aktivitas jalan kaki di negeri orang.
KL Sentral adalah pusat transportasi di Malaysia. Di sinilah semua berawal. Baik dengan bas (orang Malaysia menyebut bis dengan “bas”) maupun rail. Bahkan bas ke KLIA maupun LCCT (Low Cost Carrier Terminal, Air Asia akan mendarat dan terbang dari LCCT, bukan KLIA) pun berawal dan berakhir di KL Sentral. Setiap masuk ke stesen (stasiun), biasanya Anda akan menemukan linemap. Biasanya terdapat dalam Papan Kenyataan (Information Board). Jadi Anda akan dengan mudah menemukan jalur transportasi mana yang akan Anda gunakan. Setelah membeli tiket (dengan mesin maupun langsung ke loket), selalu perhatikan di platform mana kita mesti menunggu (platform seperti halnya di stasiun kereta di Jakarta, tempat dimana Anda harus menunggu di jalur tertentu sesuai dengan tujuan Anda). Salah platform menyebabkan Anda salah tujuan. Misalnya saat di stesen Imbi monorail, dengan tujuan ke KL Sentral, maka saya harus menunggu di Platform 2 Simpan baik-baik tiket Anda. Jangan sampai hilang. Karena tiket itu akan kita gunakan lagi untuk keluar dari stesen (pertama kali menggunakan, saya main tinggal tiket saya, untung ada orang yang mengambil tiket saya dan menyerahkan pada saya J terima kasih atas keramahannya, kakak!). Dari KL Sentral ini, mulailah petualangan perjalanan Anda di Malaysia. Misalnya Anda perlu ke Petaling Street dan Central Market untuk berburu oleh-oleh. Dari KL Sentral, cari jalur LRT. Beli tiket LRT dengan tujuan Stesen Pasar Seni (1 RM). Dari Pasar Seni Anda tinggal berjalan kaki menuju Petaling Street atau Central Market. Di Petaling Street, kerahkan segenap kemampuan untuk menawar. Kalau perlu setengahnya (tetapi saya memilih tidak membeli t-shirt sebagai oleh-oleh di sini, meski murah tetapi mutunya buruk. Tidak perlu membeli tas tangan KW, karena rasanya barang itu mudah di dapatkan di Jakarta). Misalnya lagi, dari KL Sentral Anda perlu menuju Menara Kembar Petronas. Naiklah LRT, dengan menyediakan 1.6 RM. Stesen tujuan Anda adalah KLCC. Dari stesen KLCC, Anda hanya perlu berjalan beberapa saat untuk menuju Menara Kembar Petronas (kalau Anda menginap di daerah Bukit Bintang, jalan kaki saja...cukup menguras keringatan..tapi tidak mengapa). Sebagai catatan, jangan ke Petronas Twin Tower pada hari Senin karena Sky Bridge tutup untuk maintenance (Lawatan Jejantas Udara Tutup Setiap Isnin). Yang perlu Anda lakukan untuk bisa naik ke Sky Bridge adalah antri tiket terlebih dahulu di pagi hari. Anda harus datang pagi benar, jam 7 pagi. Itu untuk antri tiketnya saja. Tiketnya sih free. Tapi Anda baru bisa menikmati Sky Bridge pada jam tertentu (ditentukan berdasarkan tiket yang kita dapatkan). Sebagai informasi, 1 orang bisa mengantri untuk 5 tiket. Kalau merasa tanggung sudah sampai seputaran Petronas Twin Tower sementara baru bisa menikmati Sky Bridge sore harinya, masuklah ke Suria KLCC, mal elit di kawasan KLCC. Kalau tidak ingin menikmati mal, Anda bisa duduk-duduk menikmati pemandangan danaunya. Atau kalau Anda membawa anak-anak, bisa mencoba berkunjung ke Petrosains. Sesuai namanya, maka di sini kita bisa belajar sains dengan cara-cara yang menarik. Tetapi Petrosains baru buka pukul 09.30. Tidak free, artinya Anda harus menyiapkan uang untuk membeli tiket. Dari KL Sentral, Anda juga bisa menuju The Mines Shopping Fair. Mall ini menjadi istimewa karena ada sungai yang mengalir di dalam mall. Anda bisa menikmati water taxi (harganya lumayan mahal, sekitar 30 RM). Untuk menuju ke sana dari KL Sentral, Anda harus mengambil KTM Komuter. Pilihlah jalur Rawang – Seremban. Stesen tujuan Anda adalah Stesen Serdang (harga 1.7 RM). Dari Stesen Serdang, silakan jalan kaki sejenak untuk menuju The Mines. Selain water taxi dan sungainya, Anda juga bisa mampir ke kedai buku Gramedia yang hadir di Malaysia. Masih ingin menikmati mall di Malaysia? Dari KL Sentral Anda bisa mengambil KTM Komuter jalur Rawang – Seremban dengan stesen tujuan Mid Valley. Di Mid Valley Mall ini ada surga bagi penikmat film karena Anda bisa menikmati Golden Screen Sinemas yang terdiri atas 18 Screens. Saya membayangkan Anda bisa menghabiskan waktu seharian untuk menikmati film-film box office Hollywood maupun lokal. Untuk yang ingin membeli local product Malaysia, Anda dapat berburu sepatu dan aksesoris wanita bermerk Vincci (Selain di Mid Valley, Anda juga bisa mendapatkan Vincci di Plaza Sungei Wang – Bukit Bintang). Dari KL Sentral ini pula, Anda juga bisa menuju ke distrik lain. Saya menuju distrik Selangor dengan tujuan stesen Shah Alam. Perjalanan ke Shah Alam ditempuh dalam waktu 40 – 50 menit. Waktu yang cukup lama untuk sebuah perjalanan dengan berdiri, di jam sibuk KTM Komuter memang crowded sekali. Demikianlah, dari KL Sentral segala tujuan bermula... Saya menginap di kawasan Bukit Bintang (yang menurut orang-orang adalah Orchad-nya Kuala Lumpur). Bukit Bintang area yang nyaman. Banyak tempat menginap di daerah tersebut, dari yang mahal sampai yang murah (foto menunjukkan KL Tower dan Twin Tower Petronas, plus hotel-hotel di Bukit Bintang) Bukit Bintang dikelilingi pusat perbelanjaan. Sungei Wang, Low Yat, Pavilion, Berjaya Times square, Lot 10. Anda tentu tidak takut kelaparan, karena selain food court yang tersedia di plaza/mall sekitar, juga bisa dengan mudah mendapatkan chinese food atau arabian food atau indian food. Demikian pula dengan makanan cepat saji. Malam hari, sepanjang jalan akan ramai dengan atraksi jalanan. Atau kalau mau karaokean, banyak pilihan tempatnya. Banyak bar juga buka gelaran. Bolehlah sekedar duduk di kedai-kedai, menyeruput teh tarik, sambil menghisap shisha. Kalau Anda laki-laki, akan banyak tawaran pijat yang ditujukan pada Anda. Bisa jadi tawarannya akan sangat mengganggu. Saya memilih Capitol Hotel di Jl. Bulan – Bukit Bintang. Dengan harga 84 RM untuk deluxe (include breakfast). Letaknya strategis. Berseberangan dengan Plaza Low Yat dan Plaza Sungei Wang. Di depan Capitol Hotel ada toko rupa-rupa (saya lupa namanya). Yang jelas ia menyediakan kebutuhan sehari-hari selayaknya Seven Eleven sampai souvenir Malaysia. Bahkan menyediakan 4 bilik bicara (wartel) dan 8 PC untuk internet (warnet). Plus bertindak sebagai agen majalah. Cocoklah, selayaknya one stop shopping kedai. Tetapi yang paling utama buat saya memilih hotel ini karena lokasinya sangat dekat dengan stesen monorail Imbi dan Bukit Bintang. Saya memang membutuhkan monorail untuk mengantar saya ke KL Sentral. Dari KL Sentral barulah saya akan beredar kemana-mana. Untuk menuju ke KL Sentral dari Stesen Imbi, hanya membutuhkan 1.6 RM. Sedangkan dari Stesen Bukit Bintang lebih mahal sedikit, sekitar 2.1 RM.  Dari dan ke bandara adalah persoalan tersendiri saat Anda mengunjungi daerah/negara lain. Apalagi jika bandara cukup jauh letaknya dari kota tujuan. Seperti halnya saat Anda berkunjung ke Malaysia dengan penerbangan yang mendarat di KLIA. Letak KLIA cukup jauh dari Kuala Lumpur. Tetapi sistem transportasi di Malaysia tampaknya menyediakan kemudahan tetamunya untuk menuju Kuala Lumpur. Kalau Anda datang seorang diri, tentu akan lebih murah bila Anda menggunakan KLIA Ekspres dengan harga 35 RM dan bertujuan akhir KL Sentral. Sebagai perbandingannya, Anda harus mengeluarkan ongkos 74.30 RM apabila Anda menggunakan teksi (taksi). Tetapi apabila Anda berdua atau bahkan lebih, memang jadi lebih efisiemn menggunakan teksi. Di KLIA tersedia Teksi Limo dengan pilihan “budget” dan “premier”. Pilihlah “budget” karena lebih murah dibandingkan dengan “premiere”. Untuk tujuan Kuala Lumpur, Anda akan dikenakan biaya 74.30 RM, sudah termasuk tol. Counter tiket KLIA Ekspres maupun Teksi Limo akan dengan mudah Anda temukan saat Anda lepas dari urusan keimigrasian di KLIA. Di depan counter Teksi Limo, petugas akan menanyakan bagasi Anda. Ini penting karena petugas tidak akan membiarkan over kapasitas pada teksi, baik over penumpang mapun over bagasi. Maka, biasanya petugas akan menanyakan berapa orang dan meminta Anda menunjukkan bagasi Anda. Setelah mendapatkan coupon Anda, silakan Anda berjalan keluar, menuju antrian Teksi Limo. Apabila Anda sudah mendapatkan teksi Anda, nikmatilah perjalanan Anda, karena jarak tempuh ke Kuala Lumpur cukup jauh. Dalam perjalanan, sopir teksi Limo biasanya akan mengajak Anda mengobrol. Dari negara mana, berapa lama di Kuala Lumpur, untuk berlibur atau bekerja, dll. Lalu biasanya akan diakhiri dengan tawaran untuk mengantarkan Anda kembali ke KLIA. Perhatikan sikap dan cara dia membawakan kendaraan. Jika Anda merasa tidak terganggu dengan sikap dan caranya membawa mobil, ada baiknya untuk mempertimbangkan kemungkinan untuk menghubunginya. Simpan baik-baik nomor telepon yang dia berikan. Nantinya saat menghubungi dia, pastikan berapa harga yang Anda sepakati. Saya, misalnya, dijemput di Bukit Bintang. Saya bersepakat di angka 75 RM (bersih). Sebagai pertimbangan, angka pada meter (argo) biasanya menunjukkan seputar 65 – 69 RM. Ya so so lah. Jika Anda mengambil teksi di jalan, pastikan Anda ingin menggunakan meter (argo) pada si sopir. Tetapi bila Anda tidak menggunakan meter, maka proses tawar-menawar pun harus dilakukan. Pasanglah di harga 65 RM. Apabila waktu Anda cukup leluasa dan bawaan Anda tidak merepotkan, pertualang dengan KLIA Ekspres patut dicoba juga. Silakan menuju KL Sentral, karena dari KL Sentral inilah KLIA Ekspres memulai perjalanannya. Selamat menikmati! Ini sih main air soft gun dengan malas. Jadi cuman duduk aja dan mencoba fokus pada sasaran. Ntar deh kalo dah mahir, bolehlah main dengan penuh cekatan. Ciee....
Download this and other original video files with Multiply Premium.
|  | Pinginnya sih menikmati Tahun Baru di TMII biar bisa lihat konser dhankdhut. Pilihan kedua sih menikmati malam 1 Suro supaya bisa ikutan mubeng tapa bisu. Ga tahunya kehabisan penginapan di Desa Wisata TMII. Jadinya ya menginap saat Malam Mingguan biasa. Ramai-ramai aja. Naik skylift, karaokean, mainair soft gun. Ya seru atau tidak seru itu kan persoalan bagaimana kita menciptakan keseruan itu 'kan? |
 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Other | | Location: | Rumah Makan Sambal Cibiuk Jl. Raya Pos Pengumben |
Anda penikmat makanan Sunda? Tentu belum afdol jika belum pernah merasakan sambal Cibiuk. Sambal Cibiuk berasal dari Garut. Konon namanya diambil dari nama sebuah daerah di Garut bernama Cibiuk. Dari sanalah nama sambal enak ini berasal. Rasanya nikmat, pedas, tetapi tidak membuat mulut dan perut Anda panas.
Pertama kali mengenal sambal Cibiuk saat saya bertugas di Tasikmalaya. Lalu saat bertandang ke kota Garut, tanpa pikir panjang, secara khusus saya mencari Sambal Cibiuk. Sejak saat itu, yang ada di mindset saya ketika mencari makanan Sunda adalah Cibiuk.
Ada tiga sambal yang ditawarkan oleh Rumah Makan Khas Sunda Cibiuk. Yaitu sambal Cibiuk ijo (Rp 4.500), sambal Cibiuk merah (Rp 4.500), dan sambal Cibiuk ceurik (Rp 7.500). Sulit menceritakan bedanya. Saya hanya bisa mengatakan persamaannya: enak. Pedas dan bikin nggak kapok. Betapapun sambal Cibiuk ceurik dikatakan pedas sekali. Jangan jeri mencocolkan lalapan atau nasi Anda ke sambal ini. Dan biarkan lidah ada lumer dalam sensasi pedasnya sambal Cibiuk.
Makan dengan nasi hangat. Tetapi jangan pesan nasi putih biasa. Kalau nasi biasa di rumah juga ada bukan? Pesanlah nasi merah. Selain tidak setiap saat terhidang di rumah, kandungan gizi nasi merah lebih tinggi dari nasi putih.
Coba cicipi pula gurame keringnya yang disajikan bersama peyek kangkung. Jika Anda sangat menyukai peyek kangkung yang unik ini, Anda juga bisa memesan secara khusus. Saya lebih cuka memesan gurame goreng kipas, bentuknya yang menarik membuat sajian rumah makan ini tak hanya jagoan di rasa tetapi juga tampilan di meja. Untuk gurame goreng kipas ukuran kecil harga Rp 36.500.
Kalau gurame goreng kipas belum cukup, Anda bisa memesan jambal rori goreng atau babat goreng. Atau supaya lengkap kekhasan Sundanya, pesanlah pepes. Setidaknya ada empat pepes yang tersedia, selain ayam, ikan mas, tahu, juga peda.
Supaya segar, jangan lupa pesanlah sayur asam. Boleh dimakan sebelum main course, atau gunakan sebagai obat pedas sambal Cibiuk Anda. Semangkuk sayur asam dapat Anda beli seharga Rp 7.500. Atau kalau tidak suka yang berkuah, Anda bisa memesan tumis-tumisan.
Untuk minuman, bisa saja Anda memesan bandrek, minuman khas makanan Sunda. Tetapi saya lebih suka memesan khusus es kelapa-jeruk, rasanya lebih menyegarkan di kerongkongan.
Harganya juga tidak mahal. Pas dengan kenikmatan hidangan masakan Sunda ini.
Untuk Anda yang tinggal di Jakarta dan tidak punya waktu untuk ke Garut secara langsung, tidak perlu khawatir. Anda pun bisa menemukan kelezatannya di Restoran Sambal Cibiuk di Gandaria Tengah, Tebet, Margonda Raya, atau yang terbaru ada di Jl. Raya Pos Pengomben No. 10 Kebon Jeruk (seputar perempatan Kelapa Dua).

Tahu dong ABBA? Tahu dong Mamma Mia!
Film ini keren betul. Tak cuma karena lagu-lagunya. Tak cuma kembali menikmati wajah Pierce Brosnan (hmmm...kelihatan tua sekali ya...tapi ganteng always). Setting lokasi filmnya juga, Jadinya film ini menjadi ramuan yang luar biasa keren. Waktu saya nonton di Plasa Senayan, theater ini seolah bersaing dengan theater sebelah yang memutar Laskas Pelangi. Sama-sama full. Bedanya adalah cukup banyak oma-oma yang ikutan menonton film ini. Percaya ga, sampai ada 2 orang oma yang menggunakan kursi roda pun bela-belain untuk menonton! Salut buat anak dan cucu Oma yang memberi penghiburan yang pasti menyenangkan buat Oma! Ga cuma di situ aja. Theater itu jadi seperti sebuah karaokean. Gimana ga, orang kami nyanyi sepanjang pertunjukkan. Apalagi dengan panduan teks, haduuuuh, jadi seneng lihat Oma sebelah ikutan berdendang. Tapi sumpah, film ini bukan hanya untuk Oma-Oma, atau yang tahu ABBA aja. Terus terang jamannya ABBA ngetop juga saya belum paham lagunya. Toh saya bisa menikmati. Tanyakan juga banyak remaja yang ikut menonton (yang pastinya bukan untuk mengantar Omanya). Sitta Nursanti (RSD) juga menonton. Dan saya yakin tanpa teks juga ia pasti tahu betul setiap lagu ABBA. Buat yang belum nonton, karena di Jakarta tak lagi tayang di bioskop, ya cari DVD-nya aja. Yang ori lho ya...selamat menonton. Udah makan enak, sharing ke orang lain, lalu dapat voucher buat makan....Wah, makan lageeee.....Asik... Yup, review Soto Kriyik yang dimasukkan ke detikfood dapat apresiasi dengan selembar voucher di Segarra Ancol. Lumayanlah...buat modal makan enak lageeee  | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Other | | Location: | Purbalingga |
Berniat hanya lewat kota Purbalingga, ternyata membangkitkan kenangan masa kecil saya. Dulu sekali, ayah saya sering mengajak saya mampir makan Soto Kriyik di Pasar Purbalingga. Maka, ketika lebaran ini saya ke Purbalingga, langsung lari ke Pasar Purbalingga, tepatnya di Kios Kidul Pasar no. 27 Purbalingga. Tujuannya cuma satu, menikmati Soto Kriyik Bu Karsini.
Sambil menunggu pesanan datang, mulailah mata saya beredar. Menyaksikan etalase. Ada kepala dan bagian-bagian badan ayam yang digoreng garing. Ada kerupuk yang ditempatkan di tempat yang unik (lihat di upload-an foto-foto kriyik). Ada seplastik besar bahan kriyikan. Telur pindangnya ditata berlarik. Kuahnya yang panas kebul-kebul.
Rasanya mirip dengan Soto (sroto) Sokaraja. Bedanya tentu di kriyiknya itu. Kriyik ini adalah tepung beras yang digoreng sangat garing sehingga sangat renyah. Tidak hanya kriyikan ini yang digoreng renyah.
Ada 2 jenis yang ditawarkan, yaitu biasa atau komplet. Di telor pindangnya yang membedakan. Saya memesan komplet. Satu porsi harga Rp 9.000,-. Kita bisa minta toping tambahan kepala ayam. Kepala ayam inipun digoreng sangat garing sehingga rasanya seperti makan kerupuk yang krispi. Saya lihat orang di sebelah saya sampai meminta 2 kepala ayam yang langsung diremukkan di atas kuah soto yang kumebul (duh, maafkan bahasa saya).
Ketika saya menyendokkan soto kriyik ke mulut, Ya Allah…. Nikmat bener rasanya. Luar biasa. Rasanya saya tidak keberatan untuk ngelengke wektu (meluangkan waktu secara khusus) makan Soto Kriyik Bu Karsini yang sudah buka cabang di Jl. MT Haryono (Karang Sentul) Purbalingga dan Jl. Prof Dr. Suharso Purwokerto ini. Tidak percaya? Coba saja. Sumpah…saya bersedia menjadi penunjuk jalan bagi Anda.

Coba buka google. Masukkan keyword gaby, maka akan keluar “Urutan 1 - 10 dari sekitar 16,700,000 hasil penelusuran untuk gaby. (0.05 detik)”. Masukkan juga keyword tinggal kenangan, maka akan keluar “Urutan 1 - 10 dari sekitar 890,000 hasil penelusuran untuk tinggal kenangan. (0.05 detik)”. Masih penasaran? Coba keyword geby, pleset-plesetan dari gaby, muncul “Urutan 1 - 10 dari sekitar 204,000 hasil penelusuran untuk geby. (0.09 detik)”. Mau coba kombinasi? Coba keyword gaby tinggal kenangan. Atau gaby jauh.Berapa hasilnya?
Banarkah lagu ini bernuansa magis, memiliki background misterius, hingga konon buat yang ga percaya kisahnya bisa mengundang kehadiran sosok wanita cantik sebagai Gaby di hadapan kita? Halah! Malah katanya ada yang kesurupan arwahnya Gaby.
Inilah bukti kedahsyatan buzz marketing?
Barapa banyak yang membicarakan lagu Gaby. Lagunya didownload. Dijadikan NSP, katanya. Ada yang sudah mengunduh NSPnya? Di You Tube adakah? Saya belum mencoba. Secara koneksi internet di kantor kadang nyendat-nyendat.
Lalu muncul kabar susulannya. Dua band yang sama-sama bernama Caramel (terpisah laut asal daerahnya) mengaku sebagai pemilik lagu ini. Belum lagi band lain yang namanya bukan Caramel juga mengaku hal yang sama.
Siapa yang diuntungkan? Orang yang paham sekali bagaimana sebuah buzz marketing bekerja.
Jadi, yang bisa diambil dari kisah Gaby buat saya, bukan kisah tragisnya jika ini true story. Bukan kisah hantu-hantuannya. Tetapi trik bagaimana kita melakukan sesuatu yang membuat produk kita dibicarakan banyak orang. So simpel. Ga perlu biaya promo segede bagong. Harus ketemu dulu pesannya, baru gunakan banyak jalan untuk menjadi medium komunikasinya. Buat perusahaan, medium yang paling awal bisa digunakan adalah team Anda. Ingat, the Best BUZZ-ER is Your Team or Employee.
Hidup buzz marketing.
BTW, ada yang punya data berapa angka penjualan album Caramel dua-duanya? Kalo masih di bawah 250.000, wah rame-rame doang, heboh-heboh doang, tapi belum ada hasilnya tuh, Bos. Mungkin karena blunder ndiri ketika ternyata begitu banyak yang mengaku sebagai pemilik lagu ini.
|